Tetek Melek

 Hari ini, genap empat belas hari saya berada di rumah sebagai ODP. Status saya yang baru tiba dari wilayah merah Covid-19, memaksa saya melakukan langkah antisipatif dengan mengkarantina diri sendiri. Meskipun sebelum memutuskan pulang saya sebenarnya sudah melakukan yang sama di kos, namun saya tetap wajib mengurung diri selama 14 hari lagi.

Berhubung masa karantina sudah selesai, saya memutuskan untuk bersepeda. Berbekal sepeda pinjaman tetangga, tepat pukul enam pagi, saja mulai mengaspal. Niat saya yang awalnya hanya berkeliling desa berubah mengikuti keinginan hati.

Di sepanjang perjalanan, selain nuansa hijau yang sangat menyegarkan, pandangan saya juga tersedot pada beberapa lukisan-lukisan unik yang dipajang di berbagai lokasi. Lukisan-lukisan tersebut dibuat sedemikian rupa dan dipasang di lokasi strategis, seperti jembatan, pos kampling, tiang listrik, hingga depan rumah warga.

menempel di tiang listrik

Lukisan itu digambar di atas pelepah kelapa. Sejauh pengamatan saya, tidak ada “pakem” yang sama pada lukisan pelepah kelapa tersebut. Ada lukisan yang terlihat menyeramkan, ada yang terlihat seperti binatang, ada pula yang terlihat cukup lucu dan sederhana. Semua menghiasi sudut-sudut desa yang saya lewati. Meskipun tidak ada pakem perihal bentuk lukisan, namun secara garis besar, ada paling tidak tiga warna yang mendominasi lukisan-lukisan tersebut, yakni warna merah, warna putih, dan warna hitam.

di depan gerbang rumah

Setelah bertanya sana-sini, saya akhirnya mengetahui bahwa lukisan-lukisan dengan media pelepah kelapa tersebut oleh masyarakat Tulungagung disebut dengan Tetek-Melek. Sejujurnya, istilah ini tidak asing bagi telinga saya. Tetek-melek hidup di kepala saya sebagai sosok menyeramkan yang menghantui anak-anak kecil yang nakal. Dulu, saat masih kecil, orang tua saya pasti selalu menakut-nakuti saya dengan perkataan “awas, enek Tetek-melek di sana! ” ketika saya pergi ke satu tempat tertentu yang tidak diinginkan orang tua. Hal ini membuat Tetek-melek, bagi anak-anak desa seperti saya, terkenal sebagai sosok penggangu yang buruk rupa.

diikat pada tiang rumah

Namun berbeda dengan peran Tetek-Melek dalam ingatan saya, Tetek-melek yang saya temui ini malah berfungsi sebagai pelindung warga dari virus Corona. Masyarakat percaya bahwa Tetek-melek ini mampu menangkal penyakit atau pagebluk yang menjangkiti suatu wilayah. Pagebluk sendiri merupakan sebutan untuk wabah penyakit epidemi, yang biasanya dikaitkan dengan hal-hal spiritual.

menempel di tiang rumah

  Saya yang penasaran dengan makna dan fungsi Tetek Melek yang kontradiktif tersebut lantas memutuskan untuk berselancar ke dunia maya untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Ternyata, kata Tetek-melek, hingga pelepah kelapa yang digunakan untuk media lukis tersebut sarat akan makna. Tetek atau Teteg bermakna tangguh, sedangkan Melek berarti waspada. Sementara itu, lukisan seram merupakan simbol marabahaya yang harus senantiasa diwaspadai oleh masyarakat. Terkahir, pelepah kelapa atau biasa disebut bongkok bermakna kepasrahan kepada Tuhan. Kesatuan antara nama, gambar seram, dan bahan lukis, pada dasarnya menyimbolkan sebuah kewaspadaan dan kepasrahan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Nenek moyang dulu dipercaya menggunakan hal serupa untuk menolak pagebluk atau wabah. Dahulu, untuk membuat Tetek-melek, seseorang harus dalam keadaan suci. Mereka harus berwudhu terlebih dahulu sebelum membuat lukisan. Setelah berwudhu, mereka lantas membaluri pelepah pisang dengan kapur dan menggambar wajah di atasnya dengan arang. Sangat sederhana.

Tentu saja, seiring perkembangan jaman, lukisan Tetek-melek tidak sesederhana dulu. Cat air dan kuas digunakan sebagai alat lukis untuk menghasilkan gambar yang lebih ciamik. Permintaan yang melonjak membuat para pengrajin tetek-melek sibuk memenuhi order. Sebuah Tetek-melek dijual seharga 15 hingga 30 ribu rupiah per buah. Hal ini mendorong geliat ekonomi baru di tengah pandemi Covid-19. Sebagai dukungan pemerintah Kabupaten Tulungagung terhadap upaya pelestarian budaya ini, dua buah Tetek-melek bahkan juga dipasang di Pendopo Kabupaten Tulungagung.

Saat melihat lukisan Tetek-melek ini, entah mengapa pikiran saya seakan terlempar pada sosok-sosok seram penjaga situs suci yang jamak kita temukan di kompleks percandian Jawa; Dwarapala. Pada bangunan klasik di Indonesia, Dwarapala identik dengan sosok raksasa, dengan gada di tangannya sebagai senjata. Ekspresi muka Dwarapala juga cukup identik; Mata melotot, gigi taring yang memanjang keluar mulut, hingga lidah yang menjulur panjang. Selain itu, rambut ikal juga menjadi identitas fisik dari Dwarapala.

Dalam Catuspatha Arkeologi Majapahit, Agus Munandar menjelaskan bahwa Dwarapala adalah transformasi dari makhluk halus penguasa tanah, yang bisa disebut dengan Yaksha dalam mitologi India. Saat agama Buddha dan Hindu mulai berkembang di India, Yakhsa mengalami negosiasi. Ia lantas ditempatkan pada level demi-god (setingkat di bawah dewata). Dalam perkembangannya, Yakhsa ini dianggap sebagai pendamping Buddha. Ia kemudian dipahatkan pada bangunan suci, dan diletakkan di bagian depan, sehingga lama-kelamaan dianggap sebagai penjaga atau pelindung bangunan suci.

Selain berperan sebagai penjaga bangunan suci, Dwarapala juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat untuk selalu waspada dan menjaga sopan santun kala memasuki tempat suci atau sakral. Orang Bali bahkan percaya bahwa Dwarapala juga mampu menjadi media seleksi bagi siapa saja yang masuk kedalam kuil atau bangunan suci. Siapapun dengan niatan buruk atau energi negatif akan mengalami kesulitan saat memasuki bangunan suci yang dijaga Dwarapala.

Tentu saja hal ini-upaya asosiasi Tetek-melek dan Dwarapala- adalah spekulasi membabi buta yang entah bagaimana muncul dalam kepala saya. Mungkin, beberapa karakter lukisan Tetek-melek yang menyeramkan tersebut, yang saya temui saat bersepeda, memancing saya untuk menghubungkannya dengan figur Dwarapala yang mahsyur itu. Tentunya, perlu penelitian lebih lanjut tentang relasi antara Tetek-melek dan Dwarapala itu sendiri guna membuktikan kengawuran asumsi saya tadi. Hehehe.

_____

Bersepeda kali ini, selain berhasil mengisi paru-paru saya dengan udara bersih, nyatanya juga memberi pengetahuan baru tentang salah satu bentuk kebudayaan Tulungagung yang hanya terbangun saat pagebluk datang. Yuk gowes!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *