Kelud

Aku begitu cinta dengan Gunung. Ditempat inilah aku merasakan benar-benar ditantang untuk dapat menaklukan diriku sendiri, mengetahui batasku dan mencoba memecahkannya guna menjadi seseorang yang lebih. Gunung, aku yakin bagi seorang pecinta alam, adalah perlambangan hidup yang cukup tepat. Kabutnya yang pekat bagaikan misteri kehidupan yang penuh ketidak pastian, lerengnya yang indah namun menanjak merupakan perlambangan usaha manusia, puncaknya yang kadang membuat kita merangkak tertatih untuk menggapainya adalah perwujudan impian yang harus ditempuh dengan segenap asa, sedang mentari pagi nan cantik adalah buah dari usaha mati-matian yang telah dilakukan. Masih banyak lagi simbol dan pelajaran yang dapat diambil dari tempat yang menurut banyak kepercayaan kuno merupakan salah satu tempat bersemayamnya dewa-dewa ini.


Salah satu gunung yang tersebar di Negeri hijau nan cantik ini adalah Gunung Kelud. Gunung berapi mungil yang masih aktif ini terletak di Kabupaten Kediri Jawa Timur. Dengan ketinggian sekitar 1600 MDPL, Kelud adalah gunung berapi dengan ketinggian terendah di Indonesia. Hal yang unik dari Gunung Kelud adalah, jangka waktu letusannya yang dapat diprediksi, serta masyarakatnya yang mampu hidup berdampingan dengan harmonis dengan alam. Keharmonisan inilah yang memicu para peneliti untuk datang bertandang ke tempat ini untuk mempelajarinya.

Salah satu “rahasia” dari keharmonisan hubungan masyarakat dan gunung ini adalah sebuah upacara yang jamak disebut “Ruwatan”. Masyarakat kelud percaya, bahwa letusan Gunung Kelud yang terjadi selama ini bukan saja disebabkan oleh faktor teknis, namun juga ada faktor non teknis didalamnya. Mereka percaya bahwa para “Penunggu” disana juga berperan dalam meletusnya Gunung ini. Hal inilah yang mendasari diadakannya ruwatan yang secara rutin dilakukan di tempat ini.

Tahun ini, acara Ruatan Gunung Kelud diadakan secara besar-besaran dan mengambil tema “Festival Seribu Tumpeng”. Dengan peserta yang luar biasa banyak yang mencangkup beberapa desa di lereng Kelud, agenda tahunan ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah kota Kediri dan para peneliti. Aku dan temanku, Gilang, yang ‘ditugaskan’ disana, cukup beruntung dapat mengabadikan momen luar bisa ini. berbekal kamera pinjaman dan alat perekam, kami berdua beserta dosen pembimbing kami, berduet untuk mengumpulkan data yang masih tercecer disana. Kami menghabiskan dua malam untuk dapat mengikuti prosesi ini, dan dua malam inilah yang membuatku semakin cinta terhadap negeri ini. 

Malam sebelum upacara “Seribu Tumpeng” dilaksanakan, kami mengikuti prosesi yang cukup sakral di atas sana. Prosesi, yang entah apa namanya tersebut, adalah prosesi meminta keselamatan dan kelancaran untuk acara esok hari. Disini, kami menjumpai sesepuh dan juga panitia yang sibuk menyiapkan berbagai perlengkapan untuk acara utama nanti. Salah satu perlatan yang disiapkan disana adalah alat musik gamelan. 

Aku begitu suka alat musik khas Indonesia ini. Bagiku, lantunan suaranya selalu berhasil menenangkan pikiran yang sedang tak menentu. Singkat cerita, prosesi malam itu berjalan lancar, dan ditutup dengan makan-makan sebagai simbol rasa syukur.

Keesokan harinya, upacara dimulai pukul 09.00 pagi. Upacara ini diawali dengan tarian dan nyanyian tradisional yang dibawakan oleh siswa SMP dan SMA lokal. Aku sedikit terenyuh dengan pemandangan ini. Disaat remaja seusia mereka sedang ‘gila’ akan Boy band dan Girl band serta menganggap kuno budaya asli, mereka justru mau mempelajari budaya mereka sendiri. Aku selalu kagum pada budaya negeri ini, dan pada mereka yang mau melestarikannya. 

Kini, setelah beberapa pidato dari orang penting di lingkup kabupaten dan desa rampung, doa-doa dipanjatkan. Inilah yang unik. Lantunan doa saat itu tidak dimonopoli agama mayoritas saja, namun semua perwakilan agama dipersilahkan berbaris rapi di depan panggung dan berdoa sesuai urutan dan kepercayaan masing-masing. Inilah sebuah harmoni yang seharusnya kita pelajari dan terapkan. Perbedaaan itu indah, dan sudah seharusnya tidak menjadi sebuah alasan perpecahan. 

Doa melantun hikmat dari para pendoa berbagai agama. Masyarakatpun mengamini tiap doa yang meluncur lancar dan indah tersebut. semua doa intinya sama, berterimakasih kepada Tuhan, memohon maaf, meminta perlindungan dan keselamatan. Setelah doa dari berbagai agama tersebut selesai, kini doa penutup, doa berbahasa jawa atau biasa disebut ‘Ujub Jawa’, terdengar. 

Penempatan ‘Ujub Jawa’ yang ada di belakang ini merupakan simbolisasi bahwa walaupun agama telah masuk kedalam sendi kehidupan masyarakat Jawa (Indonesia), namun akar kebudayaan harus tetap dipertahankan dan tak boleh di lupakan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan mengarak tumpeng utama ke atas Gunung Kelud. Sebagian masyarakat yang tidak ikut mengarak tumpeng utama, langsung menyerbu tumpeng yang telah disiapkan dan didoakan tadi. Seketika keramaian terjadi. jumlah tumpeng yang cukup banyak (seribu tumpeng) seakan imbang dengan jumlah masyarakat yang ada disana! Semua membaur rata. Tak terlihat mana pejabat mana masyarakat. Ini adalah pemandangan yang cukup indah bagiku. 

Pembawaan Tumpeng Utama dikawal dengan seni tari ‘Jaranan’. Tarian ini dilakukan oleh pemuda yang berpakaian warok dan menunggangi kuda mainan serta bersenjatakan ‘pecut’ yang seringkali disabetkan ke aspal sehingga menghasilkan suara yang cukup memekakan telinga. Bagiku pribadi, hal ini seolah perlambang penjaga yang mengamankan dan memastikan ‘Tumpeng Utama’ untuk dapat sampai di tempat tujuan dengan selamat. 

Setelah sampai di tempat yang dituju, segera para sesepuh menyiapkan prosesi pamungkas. Tumpeng Utama yang telah dibawa tadi ditempatkan sedemikian rupa. Para sesepuh juga menempatkan diri ke posisi masing-masing. Segera, rajutan doa jawa terdengar dari pemimpin upacara tersebut. aku yang sedari tadi duduk di belakang pimpinan sesepuh segera mengeluarkan alat perekamku dan merekam setiap kata yang keluar dari mulut beliau.

Tepat setelah doa selesai, tumpeng utama tadi langsung menjadi sasaran para pengunjung. Seketika tumpeng tersebut ludes tak bersisa. Masyarakat percaya bahwa tumpeng tersebut memberikan keberkahan untuk mereka. Aktifits ini disebut ‘Ngalap Berkah’. 

Setelah semua selesai, aku dan kawanku berkesempatan untuk berbincang dengan ketua sesepuh Gunung Kelud tadi. Dari beliau aku mendapatkan bermacam informasi yang cukup membuatku berdecak kagum, terutama dari segi makna ritualan tersebut. Semua prosesi adat beserta persyaratannya tersebut sangat syarat akan makna dan petuah bijak. (dan akan sangat panjang bila dituliskan disini).

Paling tidak, secara kasat mata, upacara ritual ini menggambarkan bagaimana rasa gotong royong antar masyarakat masih sangat terjaga. Rasa persatuan dan rasa nasionalisme juga tergambar kental dari dekorasi tumpeng. Nilai keikhlasan warga yang mau bersusah payah membuat tumpeng untuk dimakan bersama. Rasa tenggang rasa antar umat beragama yang ditunjukkan dari doa yang tidak dimonopoli agama mayoritas, serta menunjukkan bahwa Negeri ini adalah negeri yang suka bersyukur dalam keadaan apapun.
Inilah yang seharusnya kita pelajari, mempelajari budaya sendiri yang sangat kaya akan makna. Mempelajari dan menyerap saripatinya sehingga membuat kita lebih arif dalam bertindak-tanduk. 

Mungkin sebagian berfikir bahwa budaya ini bertentangan dengan kepercayaan tertentu. Namun sungguh, bila kita belajar melihatnya dengan lebih dalam, tidak hanya permukaannya saja, kita akan menemukan nilai yang begitu luhur di dalamnya. 

Inilah negeri permai penuh limpahan bekah dari Tuhan tersebut. Sebuah negeri adi luhur yang kata seorang Professor Brazil merupakan Benua Atlantis yang hilang. Entahlah. Tak ada yang pasti, kecuali satu hal, bahwa sekali lagi aku semakin jatuh hati pada Zambrut khatulistiwa ini. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *