Kapas Biru

Hijau

“Waduh, tapi besok kan hari jumat?” kata Ayik memecah keheningan.

Iyo seh, terus ya’opo yo?”, imbuhku dengan ditambahi lirikan ke debbay meminta pertimbangan.

Sontak debbay yang sedang ngupil pake jempol kaki, kaget. Dia hentikan aktivitas tersebut dan mulai fokus dengan kekawatian kami. Memang diantara kami bertiga, Debbay inilah yang paling religius, sehingga dalam urusan yang menyangkut tentang Agama, kami selalu menjadikannya rujukan.

Dengan jempol yang masih belepotan upil dan sedikit ingus cair, dia mulai menjawab, “Yawis ndak po-po, kita berangkat pagi aja besok. Terus pulang secepatnya biar ndak ketinggalan Jumatan”

“Oh oke wes, Mantab!”, sahut ku dan Ayik bersamaan.

Seketika itu pula kami kembali ke aktifitas masing-masing; Debbay dengan Upil dan jempol kakinya, Ayik dengan Hp dan gamesnya, dan aku dengan……… kamu… iya kamuuu* eeaa

Setelah iseng-iseng mengikuti Job Fair di Kampus Kenangan (UB), aku dan Ayik melesat menuju dampit, rumah Debbay. Rencananya kami akan menghabiskan satu hari untuk kembali menikmati alam. Menghirup aroma hijau dedaunan, dan menikmati simfoni hutan yang khas. Tujuan kali ini adalah Air Terjun Kapas Biru yang ada di Lumajang, yang terletak sekitar satu jam dari rumah si Debbay. Namun seperti biasa, ditengah diskusi tentang lokasi dan accessibility, tujuan kami mulai bergeser, kami mulai mencari lokasi yang lebih dekat, dan pilihan kami jatuh pada air terjun telaga warna yang menurut review, juga menawarkan pemandangan yang tak kalah aduhai.

Semoga selalu hijau

 Singkat kata, setelah kata sepakat dicapai dan perut terisi sarapan pagi, kami bertiga langsung berangkat ke lokasi: Air terjun telaga warna. Setelah berkendara sekitar 30 menit, kami mulai memasuki jalan menuju air terjun yang kami cari. Namun sayangnya warga lokal disana menyarankan kepada kami untuk mengurungkan niat untuk pergi kesana. Kondisi jalan yang tidak baik, disertai hujan yang beberapa hari terakhir mengguyur tempat ini, membuat air terjun itu cukup berbahaya untuk dilewati. Akhirnya kami memutuskan untuk banting setir dan kembali ke tujuan semula; Air Terjun Kapas Biru.

Maafkan pantat Debbay

Butuh sekitar 30 menit tambahan untuk mencapai air terjun satu ini. Memang berkah letak geografis Lumajang yang berada di lereng Semeru ini membuat kota yang terkenal dengan pisangnya tersebut kaya dengan wisata air terjun. Selain air terjun Kapas Biru, juga ada air terjun lain yang cukup fenomenal, Tumpak Sewu, yang wajib dikunjungi. Setelah melewati air terjun Tumpak Sewu yang cukup terkenal tersebut, kami akhirnya menemukan jalan masuk menuju air terjun Kapas Biru. Saat kami tiba disana, suasana masih sangat sepi, parkiran masih kosong, bahkan penjaga dan warganya pun juga belum menampakkan batang hidung mereka. Otomatis semangat kami menjadi berlipat, karena satu, kami tidak harus bayar parkir atau tiket masuk, dan dua, karena air terjun tersebut akan puas kami nikmati bertiga saja.

Salah kostum

Setelah melewati kebun salak, “jalan sebenarnya” menuju air terjun Kapas Biru ini mulai nampak. Jalan setapak yang hanya berupa tanah menyambut kami. Kanan-kiri jalan tidak jarang berupa jurang. Jarak yang kami tempuh cukup bisa membakar lemak di perut yang mulai menggelambir. Namun untungnya, pepohonan hijau, suasana asri, dan suara khas hutan berhasil, paling tidak, mengimbangi rasa lelah yang menumpuk dari perjalanan menuju air terjun tersebut. Sepanjang perjalanan, kami juga ditawari beberapa air terjun lain yang lebih kecil namun tetap cukup cantik dengan airnya yang sangat segar.

Setelah melewati sepetak sawah, dan jembatan bambu yang kondisinya kritis, akhirnya air terjun yang sedari tadi kami cari mulai menampakkan dirinya. Suara air yang cukup keras menandakan besarnya volume air yang jatuh ke bawah. 

Aku cukup takjub dengan pemandangan di depanku. Tebing tua yang kokoh yang mulai di tumbuhi tanaman hijau di sana-sini, air terjun yang memuntahkan puluhan kubik volume air dalam setiap detiknya serta suara gemuruh air yang menghantam bumi dengan bertubi-tubi bercampur sempurna dengan udara yang sejuk dan aroma dedaunan. Indah dan menenangkan.  Ah, syurga…..

Kapas Biru dari jauh

Langsung saja, kamera yang dari tadi aku kantongi, aku paksa bekerja. Beberapa jepretan untuk mengabadikan pemandangan megah ini aku ambil. Beberapa angle aku coba agar dapat menemukan titik terbaik untuk pemandangan langka ini. Namun tetap saja, kamera saku ini tidak mampu menandingi kedua bola mata ini. Jadi bagaimanapun indahnya yang terlihat di foto, itu hanya lima puluh persen dari keindahan yang sebenarnya saja! So, silahkan berkunjung kesini.

Tidak lama kemudian, Sayit dan Debbay menyusul tiba di lokasi. Sihir air terjun juga menyergap mereka. Mereka terdiam sesaat ketika melihat lukisan agung yang berada tepat di depan mata mereka. Bibir mereka melengkung tersenyum. Dan setelah beberapa detik, mereka akhirnya mulai sibuk dengan kamera masing-masing. 

Kami selanjutnya melangkah mendekati air terjun tersebut. Percikan air terjunnya saja sudah berhasil membuat kami basah kuyup dan menciut. “Luar biasa deras air terjun ini!”, pikirku saat itu. Pelangi juga sesekali malu-malu menampakkan diri di kaki air terjun tersebut. Dan itu semua benar-benar berhasil membasuh rasa penat yang menumpuk selama ini. 

Namun kami tidak bisa berlama-lama menikmati masterpiece ini. waktu yang menunjukkan pukul 10.00 memaksa kami untuk segera kembali ke atas agar tidak meninggalkan kewajiban kami.

Walaupun kunjungan ke air terjun ini cukup singkat, namun perjalan ini telah menambah katalog destinasi wisata yang wajib di kunjungi. Tapi ingat, tetap jaga kebersihan, jangan rusak keindahan gratis itu dengan sampah.

Selamat bereksplorasi.
Salam lestari…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *