Kampung Teratai

“Klunting-klunting,”

hape saya berdering. Satu pesan masuk ke salah satu grup whatsapp saya. Saat saya buka pesan tersebut, terpampang sebuah foto narsis seorang bapak-bapak berlatar belakang hamparan bunga teratai yang aduhai. Saya yang memang menggandrungi jenis bunga ini, langsung membalas foto tersebut, “Di mana ini, Pak?” ketik saya. “Kampung teratai, Man” sahut si pengirim foto sekejap kemudian. “Bagus, man, bisa jadi spot foto prewed mu nanti,” kelakar bapak-bapak yang lain dalam satu grup. Sontak, stiker tentara melempar granat saya kirim untuk membalas candaan tersebut.

Itulah pertama kali saya mendengar “Kampung Teratai”. Foto yang indah serta kesukaan saya terhadap bunga ini membuat saya segera mencari tahu lokasi foto ciamik tersebut. Setelah browsing sana-sini saya akhirnya mengantongi informasi awal tentang lokasi ini. Spot foto tersebut berada di Dusun Gambiran, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung. Jaraknya hanya sekitar 15 menit dari rumah saya. Dari artikel yang saya baca, tidak ada yang menyebutkan nama Kampung Teratai di situ.

Lokasi tersebut disebut telaga Bedalem. Bedalem sendiri merupakan sebuah kompleks pemakaman tua di mana pangeran Benowo, yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Tulungagung Selatan dimakamkan. Menurut cerita, Pangeran Benowo merupakan seorang pangeran dari Mataram Islam yang lari ke arah Timur hingga menetap di wilayah Bedalem. Di Bedalem inilah kemudian Pangeran Benowo mulai menyebarkan Agama Islam dan menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Tulungagung.

Berbekal informasi tersebut, saya kemudian mengajak dua ponakan saya, Dika dan Rafa, untuk mengunjungi lokasi telaga Bedalem. Dengan motor bebek yang baru dicuci, kami berangkat sekitar pukul 08.00 pagi. Saya memang ingin menikmati bunga-bunga tersebut saat mentari sedang hangat-hangatnya. Setelah sekitar 15 menit mengendarai motor, kami tiba di lokasi. Di hadapan saya, hamparan sawah yang menghijau terpampang segar. Udara yang masih hangat juga membuat suasana semakin sedap. Di hari-hari Februari ini, mendapatkan cuaca cerah adalah sebuah berkah. Biasanya langit didominasi warna kelabu dengan gumpalan awan yang sewaktu-waktu tumpah. Namun hari itu memang kami sedang beruntung.

Setelah memarkirkan motor, saya, Dika dan Rafa menyusuri jalanan yang persis bersebelahan dengan sungai kecil. Di sungai tersebut masih ada tanaman-tanaman air, ikan cetol, serta capung yang bersliweran. Pemandangan tersebut langsung melesatkan ingatan saya pada masa kecil dulu. Dulu saya sering sekali menangkap capung atau ikan-ikan di sungai-sungai kecil. Capung, sebagaimana makhluk hidup lainnya, merupakan satu rangkaian yang melengkapi ekosistem.

Capung sendiri merupakan bio-indikator air yang cukup bisa diandalkan. Nimfa capung sangat sensitif terhadap pencemaran. Hal ini bisa menjadi indikator awal bagi sehat tidaknya air di suatu tempat. Selama masih ada Nimfa dalam perairan, bisa dipastikan bahwa kualitas air masih cukup baik. Selain itu, capung dewasa adalah predator alami bagi nyamuk dan wereng yang merupakan hama sawah. Hal ini mengindikasikan bahwa eksistensi capung berbanding lurus dengan kualitas air dan lingkungan.

Namun, saat ini capung ataupun ikan kecil sudah amat langka. Sawah-sawah kini ditumbuhi rumah. Meskipun ada yang bertahan, sawah-sawah sekarang kenyang dengan pestisida yang tentu saja tidak ramah pada nimfa-nimfa. Selain itu, sungai juga telah berubah jadi got yang menampung limbah rumah tangga. Ikan dan capung hilang. Semua berubah menjadi gersang dari kehidupan kecil yang beragam.

Lepas dari pematang, pandangan saya disegap oleh hijau daun teratai yang berdesakan. Beberapa bunga yang berwarna merah muda juga muncul merekah di sela hijaunya dedaunan tersebut. Angin yang semilir membuat dedaunan teratai menari-nari. Segera saja saya mengeluarkan kamera saya dan mulai menjepret sana sini.

Teratai ini tumbuh di sebuah telaga yang dikepung sawah. Terdapat beberapa gazebo yang berdiri di sisi telaga tersebut. Gazebo-gazebo tersebut tentu saja digunakan untuk para pelancong yang singgah di sana. Saya sempat duduk sejenak menikmati pemandangan sambil mengambil beberapa gambar bunga teratai yang sedang cantik-cantiknya. Puas dengan bunga-bunga, saya mengajak ponakan saya untuk menyusuri telaga tersebut. Dilihat dari sisi mana pun, bunga teratai tetap menguarkan aroma magis yang memikat. Saya tak jemu-jemu membidik bunga penuh filosofi tersebut. Dari yang kuncup, setengah mekar, hingga yang mekar sempurna semua saya abadikan dalam kamera.

Memandang bunga teratai mengingatkan saya pada kisah tentang penciptaan manusia pertama di bumi. Koentjaraningrat, antropolog raksasa Indonesia, dalam Budaya Jawa yang terbit tahun 1984 (hal 329-330) mengisahkan mite Hindu-Buddha tentang bagaimana manusia dicipta, serta kaitannya dengan bunga teratai. Dalam mite tersebut, disebutkan bahwa Brahma adalah pencipta Bumi, sedangkan Wisnu adalah pencipta manusia. Brahma sebenarnya telah berusaha sekitar tiga kali untuk menciptakan manusia sebagai penghuni bumi. Namun seluruh usahanya tidak membuahkan hasil.

Setiap kali mencoba, ia hanya bisa menciptakan mahluk gaib yang bentuknya tak keruan dan tak berpikiran. Kecewa karena kegagalan tersebut, Brahma mengutus Wisnu turun ke bumi dan mengisi dengan kehidupan. Dengan menggunakan tanah liat, Wisnu membuat patung yang menyerupai dirinya sendiri. Ia lantas mengisinya dengan energi yang terdiri dari jiwa dan semangat (suksma). Akan tetapi, nafas atau prana lupa dimasukkannya. Hal ini membuat ciptaan Wisnu tersebut hancur berkeping-keping, sementara jiwa dan suksmanya lepas ke kegelapan dan menjadi hantu yang mengganggu alam dewata.

Belajar dari pengalaman, pada percobaan ke dua, Wisnu menciptakan mahluk yang lebih tampan, dan mengisinya dengan unsur-unsur yang dibutuhkan. Dia berhasil dan menamai mahluk ciptaannya “Adina”. Mengetahui bahwa satu mahluk tidak cukup untuk mengisi dunia, Wisnu lantas meminta bunga teratai yang cantik, yang ditemuinya di kolam, untuk menjelma menjadi manusia dan menemani Adina. Berubahlah teratai tersebut menjadi wanita yang cantik namun murung. Pada wanita cantik yang dinamainya Dewi Kawa tersebut, Wisnu bertanya kenapa wajah murung itu hadir. Dewi Kawa lantas menjawab bahwa dengan bentuknya yang baru tersebut, dia mudah diterpa oleh hujan, taufan, dingin dan panas yang ada di bumi. Wisnu yang paham lantas memanggil Adina dan mengatakan, “ku buatkan kau tempat di hati Adina, di mana kau akan merasa aman tenteram.” Masih merasa takut, Dewi Kawa lantas berkata, “Bagaimana aku dapat menemukan ketenteraman di dalam hati seseorang yang bergejolak laksana taufan, dingin bak angin malam, serta gelap seperti dalam goa?” Sambil tersenyum, Wisnu menjawab, “Kau lah, anakku, yang akan mengisi hatinya dengan ketenteraman, kehangatan, dan cahaya yang diperlukan oleh hasil ciptaanku.” Mendengar jawaban tersebut hati Dewi Kawa menjadi damai, lantas ia masuk ke hati Adina. Dari persatuan ini, lahirlah umat manusia.

Saya tersenyum mengingat cerita tersebut namun teriakan ponakan saya membuyarkan lamunan itu. “Om, lihat!” teriak ponakan saya. Saat saya mendekat, ternyata dia sedang memegang biji bunga teratai yang penuh lubang. Bagi orang-orang dengan trypophobia, pemandangan tersebut tentu saja membuat mereka bergidik geli. Setelah memfoto bunga kering tersebut, saya mengambil beberapa biji yang bersembunyi di dalamnya. Ya, siapa tahu bisa ditanam di rumah, kan? hehe.

Saat mentari mulai merangkak ke atas, saya memutuskan untuk balik badan pulang. Karena bersama ponakan, saya tidak sempat berbincang dengan orang sekitar untuk mengetahui hal-hal terkait telaga teratai ini. Namun yang pasti, bunga-bunga yang indah tersebut harus selalu dijaga agar bisa terus lestari dan bisa dinikmati oleh generasi nanti.

Salam lestari!

1 thought on “Kampung Teratai”

  1. Valentina Auliana

    Amazing…❗❗❗❗ Bisa jadi destinasi mbolang selanjutnya. 💗…Baru denger juga ada klo teratai punya kampung…hehee….

    Sukses💙

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *