Jendela Kaca

Bau karbol segera menyergap saat seorang perawat mendorong brankarku melewati lorong yang sesak dengan rintih kesakitan itu. Sesekali, aroma bunga kenanga dari taman rumah sakit yang tak terawat bertabrakan dengan bebauan anyir yang menyeruak dari sela-sela ruangan. Dinding bangunan itu sudah mengelupas di sana-sini. Beberapa bagian juga merekah memamerkan retakan yang memanjang dan bercabang. Pikiranku bercampur aduk, sementara rasa nyeri terus berdenyut di bagian bawah tubuhku.

Aku adalah korban perang keparat ini. Aku yang tengah menempuh pendidikan di salah satu kampus ternama, harus tunduk dan menjadi anggota militer dadakan untuk membantu pasukan negeriku yang payah. Bisa dibayangkan, seorang kutu buku yang gila aroma kertas tua mendadak dipaksa harus angkat senjata dan menjadi pion-pion perang. Tentu saja aku bagaikan ikan kena tuba.

Potongan gambar berkelebatan saat kucoba mengingat-ingat kejadian yang meninggalkan perih tak tertahankan ini. Entah siapa yang diam-diam memasang ranjau bajingan itu di sana, di lokasi operasi kami. Sialnya, akulah yang menginjak ranjau darat keparat itu. Tidak ada seperempat detik, ranjau meledak. Meledak tepat di atas kakiku. Badanku terpelanting bak ketapel. Hanya itu yang ku ingat. Suara ledakan yang memekakkan telinga, suara jeritan, dan nyeri yang tidak tertahankan. Gelap. Semua mendadak gelap. Dan saat mata terbuka, aku sudah berada di sini, di atas brankar menuju entah.

Di atas brankar yang sedang berjalan, perlahan kuberanikan diri melirik sumber nyeri di kakiku. Astaga, kakiku hancur! Benar-benar hancur. Serpihan daging berserakan. Darah mengucur deras. Isi kepalaku berputar dan pandanganku gelap. Aku meringis mencengkeram besi brankar. Marah. Aku marah pada kenyataan, pada pemimpin negeri yang memutuskan perang, pada siapapun yang meletakkan ranjau, dan pada diriku sendiri. Ingin aku berontak dan terjang apa saja untuk menyalurkan emosi. Tapi badanku tak berdaya. Kepalaku sesak serasa ingin meledak.

Dan, sekali lagi gelap.

_____

Kakiku terus berdenyut saat aku membuka mata. Sekarang aku sudah berada di ruangan pengap yang sempit. Lorong muram yang tadi ku lewati telah lenyap berganti ruangan yang tak kalah suramnya. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruang itu. Langsung bisa ku simpulkan bahwa ruang itu bukanlah ruang rawat. Ruang itu berbentuk persegi, dengan hanya berukuran kira-kira 3 x 3 meter. Tidak ada perabotan apapun di sana. Dindingnya telanjang menjengahkan. Hanya ada satu jendela kecil dari kaca tembus pandang berukuran kira-kira 15×15 sentimeter. Selain pintu kecil, Jendela itulah satu-satunya sumber cahaya yang membuat ruangan ini lepas dari gulita. Persis di samping jendela itu, duduk seorang kakek tua yang entah sejak kapan menjadi penghuni ruang pengap ini.

Sejak aku bangun, tak kudapati dia menoleh padaku. Dalam posisi duduk memunggungiku, dia terus menatap jendela sempit itu. Tangannya memeluk kedua lutut kurusnya yang ditekuk, sedang dagunya selalu menempel diatasnya. Terus begitu sepanjang hari. Keranjangku berada agak jauh dari keranjangnya dan kakiku yang hancur serta rasa nyeri yang tak kunjung reda, memaksaku untuk hanya berbaring saja.

Makin hari, nyeri di kaki semakin menjadi-jadi. Efek samping anestesi tak jarang membuat kepalaku serasa dihantam palu. Punggungku yang tak bisa bergerak menjadi kaku dan linu. Belum lagi demam yang kurang ajar ini. Di tengah siksaan fisik itu, kekhawatiran berkembang biak di kepalaku. “Bagaimana bisa aku hidup tanpa kaki?” “Bagaimana aku bisa bertahan dengan ini?” “Bagaimana masa depanku nanti?” “Ah, persetan dengan masa depan. Lebih baik aku mati saja!” Tak sedetik pun batinku berhenti menyiksa.

Badanku kaku. Gerak sedikit saja, nyeri langsung menyambar. Rasa sakit mengubah apapun menjadi serba memuakkan dan hanya mulutku saja yang bisa bebas melontarkan semua kepahitan. Kini mulutku kian sering mengumpat. Mengumpati apa saja. Termasuk si tua yang kurasa makin menjengkelkan itu. Orang tua itu tidak bersuara sama sekali. Tidak menoleh ke arahku. Hanya melihat jendela sempit itu. Dia tidak memanusiakan aku! Hatiku panas.

“Hey tua bangka!” teriakku kesal, “apa yang kau lihat di luar sana? Kenapa kau terus-terusan menatap jendela bangsat itu?” Rasa remuk di sekujur tubuhku menjadikan mulutku makin kasar. Aku menunggu reaksinya. Bukan, lebih tepatnya, aku menunggu pertengkaran.  

Namun, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tak sepatah kata pun! Dia terus khusyuk menatap jendela itu, seolah tak mendengarkanku. Dan itu membuat hatiku makin terpanggang.

“Kau tuli pak tua? Gendang telingamu rusak dimakan waktu? Atau kau tak sudi berbicara denganku? Kenapa? Kau jijik dengan kakiku yang hancur? Bangsat kau!” jeritku bertubi-tubi. Aku meringis. Kesakitan. Hatiku pedih dan gelap.

“Mati saja kau tua bangka keparat!” hantamku menutup kekesalan. Aku menyerah. Umpatanku tak bersambut. Hanya menambah linu padaku. Betapapun aku mengumpat, semua sia-sia. Tidak ada suara keluar dari mulutnya. Ia tetap saja membisu, khusyuk menatap jendela itu.

_____

Hingga suatu pagi, masih dalam posisi duduk menatap jendela, tanpa ku duga kakek itu tiba-tiba berbicara. Suaranya lirih dan berat.

“Kau tau, aku melihat bunga bermekaran di luar sana. Aku juga menikmati warna-warni kupu-kupu yang beterbangan menghisap sari-sari madu.” Ucapnya lancar. “Di balik jendela kaca ini, semua yang indah nampak jelas.”

“Lihat! Awan berarakan membentuk wajah anak-anak kecil yang tersenyum. Berlatarkan langit biru yang sangat jernih, tak pernah kudapati pemandangan seelok ini. Lantas, mana mungkin aku lepaskan pandanganku barang sedetik?” Lanjut kakek tersebut. Aku yang bagaikan tersihir, hanya diam mendengarkan.

“Aku melihat bayangan cerah negeri ini dari balik jendela. Menatap bunga-bunga bermekaran di sana seolah membawaku ke masa kecilku yang hangat. Menikmati kupu-kupu terbang menghisap madu berhasil melemparkan kenanganku pada kebebasan akan ketakutan. Dan, melihat putihnya awan yang beriringan membuatku merindukan hangatnya kejernihan yang pernah merangkul tanah ini.” Lelaki tua itu menarik nafas dalam mengambil jeda.

“Aku, kamu, dan semua orang yang ada di sini telah kehilangan jiwa. Senyuman telah menguap entah ke mana. Perang ini telah mengubah surga menjadi neraka, mengubah manusia putih sepertimu manjadi sehitam asap tank-tank dingin dan angkuh itu, mengubah anak-anak kita yang manis menjadi sepahit empedu. Aku tidak menyalahkanmu atas kata-katamu, atas umpatan-umpatanmu. Tidak! Aku tidak membenci sampah, karena kalaupun sampah dapat memicu bencana, aku akan lebih membenci sumbernya! Tapi lihatlah, di balik jendela ini aku melihat bunga bermekaran indah, sangat indah.” suara kakek itu bertalu-talu.

Aku teperkur meresapi kata-kata kakek itu. Hatiku tersayat dan mataku menghangat menyadari bahwa jiwaku kosong selama ini. Aku telah kehilangan diriku yang dulu dan baru menyadari kehampaan tersebut setelah mendengar perkataannya. Kata-kata kakek tua itu seolah membelah diriku, lantas mengembalikan jiwaku yang mengembara entah kemana. Aku sesenggukan dan si kakek terus berbicara. Semakin dia berbicara, semakin dalam kata-katanya menghujam jiwaku.

Dan nyatanya, itulah titik balikku. Entah bagaimana, kekuatan kata perlahan mampu mengobati. Aku mulai ikhlas menelan pil pahit kenyataan. Aku kini menjalin persahabatan dengan lelaki tua itu. Meskipun dia tidak pernah menatapku, setiap hari dia terus bercerita tentang bunga dan kupu-kupu, tentang langit biru dan awan putih, serta tentang kenangan masa lalunya.

Suatu kali, dengan masih menatap jendela, ia berbicara, “Aku dulu sama sepertimu. Meronta pada semesta yang menjerumuskanku di kamar ini. Aku kehilangan keluargaku yang hangat dan itu meninggalkan luka yang menganga. Sekian lama aku berontak, hingga ku sadari semua sia-sia. Jendela inilah yang menyadarkanku. Bunga dan kupu-kupu di luar sana juga menghiburku. Lama aku merenung sambil menatap jendela ini. Hingga akhirnya aku berdamai dengan diriku. Kau juga harus segera pulih agar bisa menatap kupu-kupu itu. Kupu-kupu yang akan menyembuhkan luka batinmu. Cantik sekali.” ucapnya tenang.

Aku menikmati cerita-ceritanya. Setiap kali mendengar cerita tersebut, api dalam dadaku menyala. Aku ingin sesegera mungkin sembuh dan bisa menikmati kupu-kupu dan bunga-bunga itu dengan mata kepalaku sendiri. Iya, lewat jendela sempit itu.

_____

Suatu pagi, aku menemukan bahwa lelaki tua tersebut telah meninggal di keranjangnya. Meninggal dengan senyuman menghiasi bibirnya. Wajahnya begitu damai. Hatiku teriris. Sahabatku, satu-satunya yang bisa aku ajak cerita dan dengarkan ceritanya, telah pergi mendahuluiku. Perasaan sedih bergelanyut dalam pikiran. Kini ruangan pengap itu hampa. Namun aku bertekad untuk sembuh. Aku ingat kata-kata kakek tua itu, bahwa aku harus segera melihat apa yang selama ini dilihatnya.

Seminggu setelah meninggalnya kakek tua tersebut, aku memaksakan diri untuk pindah ke keranjangnya. “Aku ingin melihat kupu-kupu, bunga-bunga, langit biru dan awan yang berarak melalui jendela kecil itu.” gumamku dalam hati.

Saat perawat datang, aku memintanya untuk memindahkanku ke keranjang sebelah. Berat badanku merosot tajam, namun tubuhku mulai bisa digerakkan. Paling tidak, aku bisa duduk tegap untuk mengintip jendela kecil itu. Perawat mengangkatku dengan hati-hati. Ia mendekatkan tubuhku ke jendela kecil itu. Walaupun ada gurat keheranan di wajahnya, namun dia tetap menuruti permintaanku. Aku sudah tidak sabar melihat pemandangan indah dibalik jendela kaca. Perlahan ku tegakkan punggungku. Kaki yang telah diamputasi membuat gerakanku sangat terbatas. Sedikit demi sedikit, aku mulai menjalar dan mencapai posisi pas untuk melihat keluar jendela.

Namun alangkah terkejutnya aku. Tak ada bunga, kupu, maupun langit biru dibalik jendela kaca itu. Hanya ada tembok tinggi kusam yang membisu. Sebuah tembok lain yang menjadi batas rumah sakit dengan area luar. Benar-benar berbeda dari cerita kakek tua sahabatku. Kepalaku melesat ke semua penjuru, menerka semua kemungkinan. Namun tetap saja aku tak bisa mendapatkan jawaban. Tak betah menahan penasaran, aku akhirnya menanyakan perihal lelaki tua itu pada perawat yang masih ada di kamarku. “Kakek itu serupa denganmu, sama-sama korban dari perang ini. Bedanya satu, bukannya kaki yang hilang terkena ranjau sepertimu, kedua mata lelaki tua itu buta terkena ledakan mesiu!”

6 thoughts on “Jendela Kaca”

  1. Pertama kali liat gambar jendelanya, aq kira ini cerpen horor. Kayaknya aq aja yg kebanyakan nonton horor.

    Begitu baca endingnya, nyesek. Perspektif kita terhadap sesuatu ternyata memberikan efek yg luar biasa…

Leave a Reply to aymentari Cancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *