Backpacker Gila

Penambang belerang

“Mungkin orang menganggap kami gila atau apa, sekali lagi kami tidak peduli dengan itu” Ucap bule itu sembari menerawang pemandangan jauh di bawah sana.

“Ya, kami tidak punya rumah besar atau mobil mewah seperti orang lain. Namun kami bahagia dengan hidup kami yang seperti ini, menjadi backpacker yang mengunjungi banyak tempat” tambahnya sambil melihat anaknya yang bermata biru jernih itu. Seyumnya mengembang.

Suaranya yang pelan namun tenang menyiratkan kesungguhan yang dalam. Aku melirik Anya, anak perempuannya yang sangat imut bak boneka. Dia asyik dengan kamera yang dipegangnya. Selalu tersenyum manis dengan mata serta pipi yang berbinar. Rambutnya keemasan diterpa sinar mentari pagi. Cantik sekali.

***

Perkenalan kami berawal dari keinginan kami untuk berfoto dengan bocah bule yang super imut itu. Rian, yang saat itu berada bersamaku, memaksaku untuk ijin pada orang tua anak tersebut. aku agak ragu, namun demi mencegah tangisan rian yang saat itu hampir meledak karena inginnya berfoto dengan bocah tersebut, aku akhirnya memberanikan diri berbicara pada bule itu. 

Bule itu bernama Peter, backpacker asal Polandia yang kebetulan sedang berada di Indonesia. Aku bertemu dengannya saat aku sedang berkunjung ke kawah ijen beberapa waktu lalu. Setelah berbasa-basi, aku akhirnya beralih pada tujuan utama kami; minta izin untuk foto dengan bocah manis tersebut.

“So, what’s her name sir?” tanyaku sambil melirik bocah itu. 

“Monic” jawabnya singkat sambil turut memandang ke arah yang sama.

Oh Monic, what a beautiful name. Can we take picture with her? Just two of us?” Sambungku dengan muka penuh harap. 

Si Peter nampak terkejut, dengan nada ragu, dia berkata, “just go ask her directly”

Aneh saja, bayangkan dia menyuruh kami bertanya pada anaknya yang masih berusia 4 tahun. Terlebih lagi, dia orang Polandia yang bahasa pertamanya adalah bahasa Poland. “Mungkin agak miring nih bule” pikirku.

Tapi saat ku lihat kearah bocah itu, temanku, Rian sudah mulai “ngudang” bule kecil itu dengan bersemangat.

“Monic, Monic, hallo Monic” ucapnya berulang-ulang sambil tangannya digerakkan kecil layaknya penari tor-tor. Aku hanya tersenyum melihat kawanku itu. Memang lucunya anak-anak kadang kala mampu pembunuh kedewasaan kita :v. Bila aku hanya tersenyum, beda lagi dengan Peter. Tawanya meledak saat melihat kawanku itu. 

“Sorry, I thought you were asking for her” sambil menunjuk istrinya, “that’s why I told you to ask her directly” sambungnya sambil terkekeh. Memang saat itu Monic, sang ibu, sedang duduk tepat disebelah anak berambut pirang itu.

Kami hanya tertawa mendengar jawaban si bule ini. ternyata miskom itu bisa menjadi sesuatu yang amat lucu. Rian hanya tersenyum menahan malu setelah mendengar perkataan Peter. Bagaimana tidak dengan Pe-De nya dia telah ngudang istri Peter! Wkwkwkwk.

“Her name is Anya, she is 4 years old, but don’t underestimate her!” jelasnya, dia berhenti sejenak sambil melirik anaknya itu, “she has been around, even she’s been to Everest, Nepal!” matanya berbinar tertimpa sinar mentari pagi.

“Everest? How come?” jawabku sontak dengan dahi yang kukerutkan. Aku terkejut, bagaimana mungkin dengan usia yang masih balita bisa mendaki sampai puncak?. 

I gave her piggyback of course and definitely we did not reach the summit” jelasnya sambil tersenyum. “we’ve been around together, after this (Indonesia) we’ll visit Malaysia to see the tea plantation, then we’ll go to south America” suaranya terdengar melunak.

“So, you really have gone around then. Umm, which country is the best to you?” tanyaku bersemangat, berharap kata Indonesia yang akan keluar dari mulutnya. 

Dia menatapku sejenak dan kembali melemparkan pandangannya ke para penambang belerang yang sedang menimbang bawaanya. Angin sepoi berhembus ringan.

“Every country is unique, they have their own culture and tradition, weakness and strength. It is not wise, of course, to judge which one of them is the best” jawabnya sambil melihat hasil jepretan di kameranya. 

Ya, memang benar, ini hanyalah perkara prespektif, setiap negara hingga individu, pasti punya kelebihan dan kelemahan masing masing. Dan tugas kita adalah melihat kebaikan yang ada di dalamnya bukan kelemahannya!

“Aku bekerja sepanjang tahun, bekerja sangat keras demi mendapatkan uang. Aku tidak membelanjakan uangku untuk rumah dan mobil, aku mengajak keluargaku untuk keluar melihat dunia dengan uang itu” jelas Peter

“Mungkin orang menganggap kami gila atau apa, sekali lagi kami tidak masalah dengan itu” Ucap bule itu sembari menerawang pemandangan jauh di bawah sana.

“Ya, kami tidak punya rumah besar atau mobil mewah seperti orang lain. tapi kami bahagia dengan hidup kami yang seperti ini, menjadi backpacker yang mengunjungi banyak tempat” tambahnya, sambil melihat anaknya yang bermata biru jernih itu. seyumnya mengembang.

“Menurutku, pengalaman mengunjungi tempat baru itu lebih mahal dan berharga daripada apapun. Kami benar-benar bahagia bisa belajar dari perjalanan ini, kami bisa membuka mata bahwa dunia ini memang luas dan kaya. Dunia ini berbeda, dan perbedaan inilah yang membuatnya indah” cerocos lelaki berkulit putih itu lancar. di akhir kalimat, di menatapku sambil tersenyum. “Yeah, that’s me, and that’s how I live my life”. Imbuhnya sambil tertawa lagi. 

Singkat cerita setelah berfoto dengan Anya dan keluarganya, kami pamit untuk turun terlebih dahulu. Karena kawan kami yang lain telah menunggu kami dibawah. 

*** 

Pertemuan singkat dengan Peter tadi seolah mengingatkanku kembali bahwa kebahagiaan itu aneh dan abstrak. Ada sebagian orang yang berkata bahwa ukuran kebahagiaan adalah  materi, sebagian yang lain berpendapat waktu dengan keluarga adalah ukuran kebahagiaan, sebagian lain mungkin menilai kebahagia dengan pekerjaan atau titel yang berderet di belakang namanya. Mana yang benar? Semua bisa jadi benar. Namun kita harus ingat bahwa Kebahagiaan tidak terletak pada benda lain diluar diri kita, kebahagiaan berada di dalam diri kita sendiri. dan hanya bisa di panen melalui rasa syukur atas apapun yang kita terima.

Mentari pagi memancar hangat mengisi cakrawala, membiaskan cahaya keemasan yang sangat indah. Dengan perlahan, diiringi kicauan burung dan embun yang masih menempel di pucuk daun, aku menuruni gunung itu sambil tersenyum. Tersenyum karena aku telah mendapatkan satu lagi rahasia hidup. Sebuah resep rahasia namun sederhana untuk bahagia. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *